Mengenal Situs Candi Dawangsari di Perbukitan Prambanan

Mengenal Situs Candi Dawangsari di Perbukitan Prambanan

Situs Candi Dawangsari berada di Dusun Dawangsari, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Situs ini terletak pada bentuk topografi dataran tinggi (perbukitan) dan berada satu kompleks dengan situs Candi Barong, tepatnya berada di sebelah utaranya.

Situs Candi Dawangsari merupakan bangunan peninggalan yang bernafaskan agama Buddha. Hal ini terlihat dari bentuk dasarnya yang menyerupai stupa, namun masih berupa kumpulan lepas. maka situs ini kerap disebut juga sebagai Stupa Dawangsari.

Klik di sini untuk melihat virtual tour Candi Dawangsari

Stupa Dawangsari terbuat dari batuan andesit, terdiri atas tiga tingkat. Susunan perbingkaian stupanya terditi atas batur teras pertama berukuran 17m x 17m, dengan tinggi 0,90m. Sementara itu batur teras kedua berukuran 16m x 16m dengan tinggi 0,41m. Batur ketiga berukuran 15,3m x 15,3m. Pada bagian stupanya, lengkung stupa atau dagoba belum diketahui bentuknya secara pasti karena data yang ada hanya tersisa komponen lepas. Namun diperkirakan memiliki diameter 11 meter dan tingginya 5,75 meter.

Situs Candi Dawangsari pertama kali disebut dalam ROD tahun 1915. Secara sekilas keberadaan situs ini banyak disebut dan dijadikan data dalam berbagai penelitian yang sifatnya studi kawasan seperti karya Mundardjito (1993), Margaretha S Rita (1989) tentang keberadaan candi berdasarkan telaah prasasti dan Pradnyawan Dwi (2000) dalam skripsi.

Pemetaan lengkap pada situs ini dilakukan pada tahun 1986/1987. Pemetaan ini menghasilkan sejumlah saran dan kesimpulan di antaranya, berdasarkan pengamatan selama pengukuran diperoleh gambaran bahwa di sebelah utara situs diduga masih ada bangunan lain, selain itu Situs Dawangsari juga diduga tidak bediri sendiri dari sebuah bangunan.

Secara intentis penelitian arkeologis di situs Candi Dawangsari mulai berlangsung pada tahun 1987 sampai tahun 1988/1989. Antara tahun 1989 sampai 2000 terjadi kevakuman. Hal ini terjadi lantaran fokus kegiatan dikonsentrasikan pada pemugaran Candi Barong. Sasaran dari prapemugaran pada tahun 1987 adalah difokuskan pada pendataan situs dan pencarian batu serta pengelompokan batu. Sedangkan kegiatan penelitian tahun 1988/1989 adalah pengumpulan data bangunan yang masih terpendam atau dilakukan ekskavasi. Hasil dari ekskavasi tersebut adalah penampakan struktur bangunan bagian atas (ata) sampai dengan struktur bangunan bagian batur candi. Serta penyusunan percobaan batu bagian kaki batur sisi timur.

Ekskavasi dilakukan kembali pada tahun 2001. Bedasarkan ekskavasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa ;

  1. Situs stupa Dawangsari II (hasil ekskavasi) bukan perupakan perwara, tetapi merupakan bangunan pendukung (bukan bangunan utama)
  2. Diperkirakan masih ada bangunan stupa lagi yang masih terpendam, sehingga perlu penelitian lebih lanjut.
  3. Profil situs stupa Dawangsari II lebih sederhana dibandingkan dengan stupa Dawangsari I (lama).

Pada tahun 2014 BPCB Yogyakarta melakukan studi kelayakan terhadap Stupa Dawangsari. Hasilnya adalah hasil ekskavasi secara keseluruhan telah ditemukan beberapa data arkeologi yang dapat mendukung penentuan ukuran maupun denah stupa, volume batu yang menyusun bangunan stupa, tingkat kerusakan bangunan dilihat dari pergeseran sudut pondasi batur pada sudut sebelah barat daya yang ditemukan dalam posisi sudah bergeser.

Sudut pondasi batur sebelah barat laut yang belum ditemukan dalam kegiatan ekskavasi itu diperkirakan sudah bergeser dari kedudukan semula. Terutama hal ini dilihat dari tingkat kemiringan tanah saat ini. Sementara sudut pondasi batu yang ditemukan dalam posisi yang diperkirakan masih insitu belum mengalami pergeseran adalah sudut tenggara.

Selain sudut pondasi batur juga ditemukan bagian komponen bangunan berupa kaki, sepatu dan lapisan maaiveldt yang berupa lantai dari batu putih (batu tuff). Sudut pondasi batur sebelah timur laut yang ditemukan kondisinya sedikit mengalami perubahan dilihat dari posisi struktur kaki dan sepatu bangunan di sisi sebelah utara yang sudah mengalami pergeseran, sedangposisi kaki dan sepatu di sisi sebelah timur diperkirakan strukturnya masih insitu.

Data yang belum dapat diungkap adalah struktur tangga masuk (letak/posisinya di mana, tingkat/susunan tangga berapa dan model tangganya menggunakan analogi). Analisis yang dapat dilakukan untuk mengungkap keberadaan tangga pada bangunan Stupa Dawangsari dilakukan dengan membangingkan keberadaan tangga yang ditemukan pada bangunan serupa yaitu Stupa Sumberwatu. (Data diperoleh dari papan informasi BPCB Yogyakarta)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *